TELAAH BUKU TEKS_PENYAJIAN MATERI SASTRA INDONESIA_KELOMPOK 7
MAKALAH
“PENYAJIAN MATERI SASTRA INDONESIA”
Disusun Oleh:
Siska Yuniar Arumning Tyas (A310190188)
Ikhtiar Wahyu Khasanah (A310190198)
Shella Gita Cahyani (A310190208)
Mona Mutiara Dewi (A310190220)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2021
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimanakah materi bersastra yang berupa kegiatan mendengarkan?
- Bagaimanakah materi bersastra yang berupa kegiatan berbicara?
- Bagaimanakah materi bersastra yang berupa kegiatan membaca?
- Bagaimanakah materi bersastra yang berupa kegiatan menulis?
1.3 Tujuan
- Menjelaskan materi bersastra yang berupa kegiatan mendengarkan.
- Menjelaskan materi bersastra yang berupa kegiatan berbicara.
- Menjelaskan materi bersastra yang berupa kegiatan membaca.
- Menjelaskan materi bersastra yang berupa kegiatan menulis.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Materi bersastra yang berupa keterampilan mendengarkan
2.2 Materi bersastra yang berupa kegiatan berbicara
Materi sastra dalam buku pelajaran yang berupa keterampilan berbicara disajikan dengan instruksi dan urutan yang jelas. Materi sastra yang berupa keterampilan berbicara merupakan keterampilan kolaborasi dengan keterampilan berbahasa yang lain. Maka, buku teks harus memberikan batasan yang tepat dan jelas serta menitik beratkan pada pembelajaran berbicara dengan didukung oleh keterampilan berbahasa yang lain.
Menyampaikan dialog yang sesuai dengan watak dan perilaku tokoh dan mampu mengespresikan perilaku dan dialog merupakan salah satu kompetensi dasar dalam bersastra. Kompetensi dasar ini berpotensi besar untuk mengembangkan keterampilan berbicara. Namun penyajian buku teks dalam urutan pembelajaran akan mempengaruhi langkah-langkah pembelajaran (Huda dan Dini, 2020: 79). Maka dalam penyusunan instruksi dan urutan dalam buku teks harus dilakukan dengan teliti dan jelas.
2.3 Materi bersastra yang berupa kegiatan membaca
Dalam pembelajaran membaca terdapat langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut, mempersiapkan, menelaah, menanggapi, mencari tahu dan menambah pemahaman. Kegiatan membaca bukan hanya diawali membuka buku kemudian membacanya. Namun, ada proses yang harus ditempuh yaitu, 1) menentukan teks yang akan dibaca, 2) menghubungkan teks dengan pengalaman pembaca, 3) memprediksi teks, dan 4) meninjau pendahuluan dalam teks (Huda dan Dini, 2020: 80).
Kompetensi dasar dalam materi sastra berfokus dalam pengembangan keterampilan membaca misalkan kompetensi dasar kelas VII. KD 4.1 Menangkap makna cerita pendek secara lisan maupun tulisan. Buku teks dapat menggunakan pendekatan yang bervariasi dalam menyampaikan materi, salah satunya pendekatan proses. Pendekatan proses yang digunakan untuk memaparkan kompetensi dasar dibuktikan dalam beberapa hal sebagai berikut: (1) disedikan cerita pendek untuk siswa. Sesuai kompetensi dasar tersebut cerpen yang telah disediakan dibaca oleh siswa kelas VII, hal ini membantu beban untuk memilih teks yang akan dibaca. (2) buku ajar secara tidak langsung meningkatkan pengalaman siswa mengenai cerita pendek dengan cara siswa diminta menyediakan lima pertanyaan mengenai cerita pendek yang telah dipelajari sebelumnya. (3) kalimat informatif mengenai data yang diperlukan siswa, tujuan membaca teks, dan aktivitas yang menyertainya. (4) melalui penyajian pertanyaan oleh siswa sebelum membaca, akan diberikan tinjauan mengenai teks. Proses ini membantu siswa dalam menelaah pendahuluan dalam teks yang menjadikan proses membaca akan lebih efektif dan efesien.
Menurut Huda dan Dini (2020: 81) Asumsi dasar teori skema yakni pengalaman seseorang atau individu akan mempengaruhi bagaimana seseorang itu dalam memperhatikan, menguasai, dan mengingat informasi yang telah diberikan sebelumnya. Skemata adalah kumpulan dari skema-skema yang memungkinkan manusia dapat mengingat dan merespons terhadap suatu rangsangan. Skemata bermanfaat untuk memahami suatu bacaan dalam kegiatan membaca dan juga mampu dimanfaatkan sebagai dasar dalam memaknai runtutan kalimat yang dibacanya. Dalam memilih teks bacaan, pemahaman skema sangat membantu guru untuk memilih teks bacaan yang sinkron dengan kemampuan skemata siswa.
Pemilihan teks yang akan dibaca harus disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa. Pemilihan teks yang dilandaskan pada skemata serta perkembangan yang bersifat kognitif, melihat pada perkiraan. Skema dan perubahan kognitif menentukan peran yang utama dalam menguasai sebuah teks. Oleh sebab itu, siswa harus memanfaatkan pemahamannya untuk menyatukan maksud kalimat sebagai contoh yang logis dari konteks atau keadaan yang diilustrasikan oleh teks secara menyeluruh.
2.4 Materi bersastra yang berupa kegiatan menulis
Keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa produktif tulis. Menurut Tarigan (2008:3) dalam Wiarsih (126:2016), keterampilan menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan tidak secara tatap muka dengan pihak lain. Nurgiyantoro (2001: 273) dalam Wiarsih (126:2016), menyatakan menulis adalah aktivitas mengungkapkan gagasan melalui media bahasa. Menulis merupakan kegiatan produktif dan ekspresif sehingga penulis harus memiliki kemampuan dalam menggunakan kosakata, tata tulis, dan struktur bahasa. Atar Semi (1993: 47) dalam Wiarsih (126:2016), mengartikan keterampilan me-nulis sebagai tindakan memindahkan pikiran dan perasaan ke dalam bahasa tulis dengan menggunakan lambang-lambang.
Materi sastra yang termasuk dalam keterampilan menulis harus disajikan secara urut sehingga siswa dapat mengembangkan kompetensi sastranya pada bidang tulis. Materi sastra, baik puisi, prosa, maupun drama dapat disajikan dalam bentuk tulis. Siswa diminta secara aktif untuk menulis. Hal ini tentu membutuhkan instruksi yang jelas di dalam buku teks. Materi sastra yang berupa keterampilan menulis dapat disajikan dalam bentuk pemodelan. Contoh menulis sastra disajikan terlebih dahulu di dalam buku teks, kemudian siswa membuat yang serupa dengan contoh tersebut. Hal ini penting untuk membangkitkan metakognisi pada siswa. Siswa ketika menulis sastra sudah mengetahui arah dan tahapannya. Dengan demikian, siswa fokus pada penuangan ide, tidak lagi pada bentuk. Contoh menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain disajikan dengan bentuk pemodelan dan tahapan yang jelas. Pada tahap awal, siswa diminta menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi. Pengalaman pribadi lebih mudah dibandingkan dengan pengalaman orang lain karena dalam pengalaman pribadi, siswa mengetahui detail kejadian, waktu, setting, dan nuansa. Dengan demikian, data yang diperoleh dari pengalaman pribadi lebih banyak. Setelah siswa berhasil menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi, tingkat kesulitan dinaikkan dengan cara menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
- Keterampilan berbahasa berhubungan erat dengan materi-materi berbahasa di dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
- Sajian materi berbahasa disajikan dalam empat keterampilan, yang berupa keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.
- Materi berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia tersaji dalam teks berbahasa dan teks bersastra. Dalam teks bersastra materi berbahasa mengacu pada struktur dan aspek kebahasaan teks.
DAFTAR PUSTAKA
Huda, Miftakhul dan Dini Restianti Pratiwi. 2020. Kajian Buku Teks Bahasa dan Sastra Indonesia. Surakarta. Muhammadiyah University Press.
Isnaini, Desiana Auliani Nor. 2019. "Analisis Kesesuaian Materi Sastra Dalam Buku Teks Bahasa Indonesia SMP/MTS Dengan Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 Edisi Revisi Tahun 2016." Journal student UNY. Vol 8, No 2. Hal 142-152.
Triutami, Diah Ayuk.2015. “Muatan Materi Sastra Dalam Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas Vii Dan Relevansinya Dengan Kompetensi Inti – Kompetensi Dasar Kurikulum 2013.” Naskah Pulikasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Wiarsih, Cicih, Tri Yuliansyah Bintaro. 2016. “Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek Melalui Metode Penugasan.” Dinamika Jurnal Pendidikan Dasar. Volume VI, Nomor 1. Hal. 124-134.

Komentar
Posting Komentar