TELAAH BUKU TEKS_PENYAJIAN MATERI SASTRA INDONESIA_KELOMPOK 7

 MAKALAH 

“PENYAJIAN MATERI SASTRA INDONESIA” 

 



Disusun Oleh:

Siska Yuniar Arumning Tyas (A310190188)

Ikhtiar Wahyu Khasanah    (A310190198)

Shella Gita Cahyani              (A310190208)

Mona Mutiara Dewi              (A310190220)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 

2021



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Adanya perubahan kurikulum di Indoneisa yang semula KTSP menjadi kurikulum 2013 berpengaruh pada sistem pembelajaran. Pembelajaran bahasa Indonesia pada Kurikulum 2013 dirancang dengan berbasis teks yang sifatnya lebih didominasi teks nonsastra. Dengan penekanan pembelajaran yang berbasis teks tersebut memberikan kedudukan keterampilan berbahasa lebih diutamakan. Dengan demikian pembelajaran sastra hanya sebagai pelengkap dalam penyajian sebuah teks. Pembelajaran bahasa dan sastra tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan yang berdiri sendiri. Ketrampilan bersastra yang semula memiliki porsi yang sama dengan ketrampilan berbahasa, pada Kurikulum 2013 sastra hanya memiliki porsi yang tidak sebanding. Mengingat kembali, bahwa pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks dan menekankan pada bahasa sebagai alat komunikasi.
Dengan kata lain materi pembelajaran keterampilan berbahasa menduduki porsi yang lebih besar daripada materi pembelajaran sastra. Hal tersebut memang sesuai dengan KD yang ada dalam Lampiran Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016. Salah satu contoh yaitu pada pembelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas VIII, dari 32 KD yang ada pembelajaran sastra hanya menduduki 8 KD dan sisanya adalah materi pembelajaran keterampilan berbahasa. Dalam Kurikulum 2013 sastra menempati bagian yang lebih kecil daripada keterampilan berbahasa.
Pentingnya pembelajaran sastra tak lepas dari tujuan pembelajaran sastra itu sendiri. Sayuti (2015: 144) dalam Isnaini (144:2019) menjelaskan bahwa Kurikulum 2013 tidak mempengaruhi tujuan pembelajaran sastra. Artinya, perubahan kurikulum-kurikulum terdahulu hingga sekarang menjadi Kurikulum 2013 yang berbasis teks tidak memberikan pengaruh terhadap tujuaan pembelajaran sastra. Tujuan pembelajaran sastra itu sendiri berorientasi pada literary knowlage (pengetahuan) dan literary appreciation (apresiasi).
Salah satu mata pelajaran yang menggunakan buku yaitu pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut Sufanti (2010:11) dalam Triutami (3:2015) Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah sejak Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Menurut Nuh (dalam Mahsun, 2014:94) suatu keistimewaan dalam Kurikulum 2013 adalah menempatkan bahasa sebagai penghela ilmu pengetahuan. Peran bahasa sebagai penghela ilmu pengetahuan tersebut tentu bukan merupakan suatu kebetulan jika paradigma pembelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 diorientasikan pada pembelajaran berbasis teks.
Menurut Mahsun (2014:116) dalam Triutami (3:2015) kalau dicermati jenis-jenis teks yang diajarkan serta pembagian teks berdasarkan genrennya, terlihat bahwa teks genre sastra tersajikan dengan baik, hanya saja kemunculannya tidak sekaligus. Ditambahkan oleh Mahsun (2014:116) dalam Triutami (3:2015) bahwa, buku bahasa Indonesia kelas VII dan X memanfaatkan teks sastra: puisi sebagai media untuk menciptakan konteks pembelajaran. Melalui teks sastra, peserta didik dibawa ke situasi tema pembelajaran. Tentunya teks sastra yang dimuat dalam buku bahasa Indoneisa juga mencakup teks sastra yang lain.

1.2 Rumusan Masalah 

  1. Bagaimanakah materi bersastra yang berupa kegiatan mendengarkan? 
  2. Bagaimanakah materi bersastra yang berupa kegiatan berbicara?
  3. Bagaimanakah materi bersastra yang berupa kegiatan membaca?
  4. Bagaimanakah materi bersastra yang berupa kegiatan menulis?

1.3 Tujuan 

  1. Menjelaskan materi bersastra yang berupa kegiatan mendengarkan.
  2. Menjelaskan materi bersastra yang berupa kegiatan berbicara.
  3. Menjelaskan materi bersastra yang berupa kegiatan membaca.
  4. Menjelaskan materi bersastra yang berupa kegiatan menulis.



BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Materi bersastra yang berupa keterampilan mendengarkan

Keterampilan mendengarkan adalah keterampilan yang paling dasar diantara empat keterampilan berbahasa lainnya. Keterampilan medengarkan diterapkan pada setiap jenjang sekolah formal. Keterampilan medengarkan dengan materi sastra. Penyajian materi sastra yang berupa keterampilan mendengarkan dalam buku teks dapat bervariasi. Meskipun demikian, ada hal yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu buku teks mengarahkan aktivitas pembelajaran sastra melalui keterampilan mendengarkan sebagai jalur utama. Keterampialn mendengarkan sama saja dengan keterampilan menyimak, menyimak merupakan kegiatan meresapi, mengolah serta menginterpretasi suatu permasalahan dengan melibatkan pancaindera seseorang. Menurut H. G. Tarigan, menyimak ialah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Buku teks menyiapkan alur berikut sebagai materi bersastra yang berupa keterampilan mendengarkan. Siswa diminta untuk membaca cerita pendek yang telah ditentukan, sedangkan yang lain akan menyimak dengan saksama untuk memahami informasi apa saja yang dapat ditemukan berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam cerita tersebut. Guru memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa yang berkaitan dengan cerita pendek tersebut. Siswa dimina mencari contoh cerita pendek yang berkaitan dengan cerita pendek sebelumnya dan siswa mengajukan pertanyaan, kemudian guru mempersilahkan siswa lain untuk menjawab pertanyaan dan menyampaikan arugmentasi, sedangkan guru sebagai fasilitator bertugas meluruskan jawaban serta memberi kesimpulan. Kemudian, siswa menentukan pesan moral yang disampaikan dalam cerita pendek tersebut sebagai implementasi kehidupan sehari-hari. Nilai moral yang dapa meliputi aspek sosial budaya, politik, atau, agama. Siswa dapat mengaitkan pesan moral tersebut dengan peristiwa kehidupan sehari-hari.

2.2 Materi bersastra yang berupa kegiatan berbicara

Materi sastra dalam buku pelajaran yang berupa keterampilan berbicara disajikan dengan instruksi dan urutan yang jelas. Materi sastra yang berupa keterampilan berbicara merupakan keterampilan kolaborasi dengan keterampilan berbahasa yang lain. Maka, buku teks harus memberikan batasan yang tepat dan jelas serta menitik beratkan pada pembelajaran berbicara dengan didukung oleh keterampilan berbahasa yang lain.

Menyampaikan dialog yang sesuai dengan watak dan perilaku tokoh dan mampu mengespresikan perilaku dan dialog merupakan salah satu kompetensi dasar dalam bersastra. Kompetensi dasar ini berpotensi besar untuk mengembangkan keterampilan berbicara. Namun penyajian buku teks dalam urutan pembelajaran akan mempengaruhi langkah-langkah pembelajaran (Huda dan Dini, 2020: 79). Maka dalam penyusunan instruksi dan urutan dalam buku teks harus dilakukan dengan teliti dan jelas.

2.3 Materi bersastra yang berupa kegiatan membaca

Dalam pembelajaran membaca terdapat langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut, mempersiapkan, menelaah, menanggapi, mencari tahu dan menambah pemahaman. Kegiatan membaca bukan hanya diawali membuka buku kemudian membacanya. Namun, ada proses yang harus ditempuh yaitu, 1) menentukan teks yang akan dibaca, 2) menghubungkan teks dengan pengalaman pembaca, 3) memprediksi teks, dan 4) meninjau pendahuluan dalam teks (Huda dan Dini, 2020: 80).

Kompetensi dasar dalam materi sastra berfokus dalam pengembangan keterampilan membaca misalkan kompetensi dasar kelas VII. KD 4.1 Menangkap makna cerita pendek secara lisan maupun tulisan. Buku teks dapat menggunakan pendekatan yang bervariasi dalam menyampaikan materi, salah satunya pendekatan proses.  Pendekatan proses yang digunakan untuk memaparkan kompetensi dasar dibuktikan dalam beberapa hal sebagai berikut: (1) disedikan cerita pendek untuk siswa. Sesuai kompetensi dasar tersebut cerpen yang telah disediakan dibaca oleh siswa kelas VII, hal ini membantu beban untuk memilih teks yang akan dibaca. (2) buku ajar secara tidak langsung meningkatkan pengalaman siswa mengenai cerita pendek dengan cara siswa diminta menyediakan lima pertanyaan mengenai cerita pendek yang telah dipelajari sebelumnya. (3) kalimat informatif  mengenai data yang diperlukan siswa, tujuan membaca teks, dan aktivitas yang menyertainya. (4) melalui penyajian pertanyaan oleh siswa sebelum membaca, akan diberikan tinjauan mengenai teks. Proses ini membantu siswa dalam menelaah pendahuluan dalam teks yang menjadikan proses membaca akan lebih efektif dan efesien. 

Menurut Huda dan Dini (2020: 81) Asumsi dasar teori skema yakni pengalaman seseorang atau individu akan mempengaruhi bagaimana seseorang itu dalam memperhatikan, menguasai, dan mengingat informasi yang telah diberikan sebelumnya. Skemata adalah kumpulan dari skema-skema yang memungkinkan manusia dapat mengingat dan merespons terhadap suatu rangsangan. Skemata bermanfaat untuk memahami suatu bacaan dalam kegiatan membaca dan juga mampu dimanfaatkan sebagai dasar dalam memaknai runtutan kalimat yang dibacanya. Dalam memilih teks bacaan, pemahaman skema sangat membantu guru untuk memilih teks bacaan yang sinkron dengan kemampuan skemata siswa. 

Pemilihan teks yang akan dibaca harus disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa. Pemilihan teks yang dilandaskan pada skemata serta perkembangan yang bersifat kognitif, melihat pada perkiraan. Skema dan perubahan kognitif menentukan peran yang utama dalam menguasai sebuah teks. Oleh sebab itu, siswa harus memanfaatkan pemahamannya untuk menyatukan maksud kalimat sebagai contoh yang logis dari konteks atau keadaan yang diilustrasikan oleh teks secara menyeluruh.

2.4 Materi bersastra yang berupa kegiatan menulis

Keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa produktif tulis. Menurut Tarigan (2008:3) dalam Wiarsih (126:2016), keterampilan menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan tidak secara tatap muka dengan pihak lain. Nurgiyantoro (2001: 273) dalam Wiarsih (126:2016), menyatakan menulis adalah aktivitas mengungkapkan gagasan melalui media bahasa. Menulis merupakan kegiatan produktif dan ekspresif sehingga penulis harus memiliki kemampuan dalam menggunakan kosakata, tata tulis, dan struktur bahasa. Atar Semi (1993: 47) dalam Wiarsih (126:2016), mengartikan keterampilan me-nulis sebagai tindakan memindahkan pikiran dan perasaan ke dalam bahasa tulis dengan menggunakan lambang-lambang. 

Materi sastra yang termasuk dalam keterampilan menulis harus disajikan secara urut sehingga siswa dapat mengembangkan kompetensi sastranya pada bidang tulis. Materi sastra, baik puisi, prosa, maupun drama dapat disajikan dalam bentuk tulis. Siswa diminta secara aktif untuk menulis. Hal ini tentu membutuhkan instruksi yang jelas di dalam buku teks. Materi sastra yang berupa keterampilan menulis dapat disajikan dalam bentuk pemodelan. Contoh menulis sastra disajikan terlebih dahulu di dalam buku teks, kemudian siswa membuat yang serupa dengan contoh tersebut. Hal ini penting untuk membangkitkan metakognisi pada siswa. Siswa ketika menulis sastra sudah mengetahui arah dan tahapannya. Dengan demikian, siswa fokus pada penuangan ide, tidak lagi pada bentuk. Contoh menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain disajikan dengan bentuk pemodelan dan tahapan yang jelas. Pada tahap awal, siswa diminta menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi. Pengalaman pribadi lebih mudah dibandingkan dengan pengalaman orang lain karena dalam pengalaman pribadi, siswa mengetahui detail kejadian, waktu, setting, dan nuansa. Dengan demikian, data yang diperoleh dari pengalaman pribadi lebih banyak. Setelah siswa berhasil menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi, tingkat kesulitan dinaikkan dengan cara menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain.



BAB III

PENUTUP 

3.1 Kesimpulan

  1. Keterampilan berbahasa berhubungan erat dengan materi-materi berbahasa di dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
  2. Sajian materi berbahasa disajikan dalam empat keterampilan, yang berupa keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. 
  3. Materi berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia tersaji dalam teks berbahasa dan teks bersastra. Dalam teks bersastra materi berbahasa mengacu pada struktur dan aspek kebahasaan teks.



DAFTAR PUSTAKA

 Huda, Miftakhul dan Dini Restianti Pratiwi. 2020. Kajian Buku Teks Bahasa dan Sastra Indonesia. Surakarta. Muhammadiyah University Press.

Isnaini, Desiana Auliani Nor. 2019. "Analisis Kesesuaian Materi Sastra Dalam Buku Teks Bahasa Indonesia SMP/MTS Dengan Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 Edisi Revisi Tahun 2016." Journal student UNY.  Vol 8, No 2. Hal 142-152.

Triutami, Diah Ayuk.2015. “Muatan Materi Sastra Dalam Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas Vii Dan Relevansinya Dengan Kompetensi Inti – Kompetensi Dasar Kurikulum 2013.” Naskah Pulikasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Wiarsih, Cicih, Tri Yuliansyah Bintaro. 2016. “Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek Melalui Metode Penugasan.” Dinamika Jurnal Pendidikan Dasar. Volume VI, Nomor 1. Hal. 124-134.


 


 




Komentar